Jumat, 19 Desember 2014

Cerita Anak Gimbal di Dieng



 

Namanya Nafis. Umurnya baru dua tahun. Ada permintaannya yang harus segera dikabulkan. Permintaan gadis kecil dari pegunungan Dieng ini hanya sederhana. Ia minta dibelikan ”Es Krim”. Permintaan yang sangat wajar untuk semua anak kecil. Namun ada yang spesial dari Nafis. Nafis adalah Anak Bajang. Ia memiliki rambut Gimbal.

Anak dengan rambut gimbal ini ada beberapa di Dataran Tinggi Dieng ini. Bukan karena sengaja digimbal seperti aliran Rasta/Reage atau karena tidak pernah mencuci rambut. Anak-anak dengan rambut gimbal ini adalah salah satu wujud kearifan lokal yang berada di Dieng. Selain alamnya yang benar-benar indah, hingga sering disebut Negeri di Atas Awan, Anak-anak dengan rambut gimbal adalah daya tarik sendiri yang ada di daerah ini.



Masyarakat Dieng sendiri percaya bahwa  anak-anak dengan rambut gimbal adalah sebuah takdir.Meski mereka terlahir dalam kondisi normal, seperti bayi-bayi yang lain, dengan rambut yang lembut. Mereka yang mendapatkan takdir rambut gimbal akan mengalami sakit demam saat mereka mulai mengenal nalar.  Biasanya mulai umur dua tahun. Badan Balita ini akan mengalami panas, deman. Ini adalah salah satu tanda munculnya rambut gimbal mereka. Mereka akan kembali mengalami sakit panas dan juga demam jika ada rambut gimbal lain yang tumbuh di kepala mereka.


Menurut Cerita, anak-anak gimbal ini sudah ada sejak jaman Kyai Kolodete dan Nini Roro Ronce. Mereka berdua adalah lelulur Dataran Tinggi Dieng yang hidup pada Abad ke tujuh. Sejak jaman dahulu rambut gimbal dianggap sebagai ”bala” atau Malapetaka.


Maka untuk menolak bala dan menghentikan Malapetaka ini, mereka yang mendapatkan takdir berambut gimbal harus di Ruwat.  Namun Ruwatan atau prosesi pembersihan diri untuk anak-anak gimbal dieng ini unik. Untuk bisa dibersihkan, anak-anak gimbal ini akan meminta satu permintaan yang harus di kabulkan. Jika belum dikabulkan, meski berulang lagi rambut gimbalnya dibersihkan akan tumbuh lagi. Padahal setiap tumbuh rambut gimbal anak tersebut akan mengalami sakit... kasihan ya.


Untuk itulah kemudian masyarakat Dieng membiarkan anak-anak tersebut tumbuh dengan rambut gimbal, tanpa pernah memotongnya sebelum anak tersebut mengajukan permintaan. Ruwatan anak gimbal baru akan dilakukan jika anak tersebut sudah mengajukan permintaan.


Permintaan Anak-anak Bajang ini pun bermacam-macam, dari yang sederhana hingga yang rumit. Dari yang murah sampai yang mahal. Ada yang hanya minta dibelikan cokelat, es krim, es lilin atau sepeda, namun ada juga yang minta dibelikan sepeda motor oleh Kapolda. Bahkan konon critanya ada seorang anak dari lereng Gunung Prau yang meminta Ular yang besarnya se-kendang. Akibat belum bisa memenuhi permintaan anak tersebut, hingga umurnya yang sudah dewasa, ia masih memiliki rambut yang gimbal.


Lalu bagaimana untuk mengetahui bahwa apa yang menjadi permintaan Anak Bajang itu adalah syarat untuk bisa diruwat atau hanya permintaan biasa?.  Mbah Naryono, salah satu sesepuh Dataran Tinggi Dieng menjelaskan. Biasanya Anak Bajang akan mengajukan permintaan tersebut pada saat mereka bangun tidur dan permintaan tersebut akan diucapkan berkali-kali.

Jika permintaan tersebut bisa dipenuhi, maka prosesi Ruwatan atau pembersihan diri bisa disegera dilakukan.  Dulu ruwatan ini digelar sendiri oleh keluarga anak-anak Bajang. Namun mulai tahun 2012 Ruwatan anak-anak Bajang dilakukan secara bersama dan dikemas melalui agenda wisata Dieng.  Meski masih ada juga yang mengadakan ruwatan mandiri.


Ruwatan Anak Bajang bersama-sama ini dikemas melalui event Dieng Culture Festival (DCF). Setiap tahun ada tujuh anak yang diruwat melalui acara ini. Ketua Kelompok Sadar Wisata, Alim Fauzi mengatakan anak-anak yang diruwat dalam acara DCF ini tidak hanya anak-anak dari Dieng. Ternyata ada anak-anak yang tidak tinggal di Dieng juga memiliki rambut gimbal yang sama dengan anak-anak Dieng. Mereka juga baru bisa diruwat setelah permintaanya di penuhi.  Beberapa anak yang diruwat tersebut adanya yang berasal dari Klaten, Jepara, Pati dan Jakarta. ”Setelah ditelusuri mereka memang punya saudara atau kerabat yang berasal atau asli dari Dieng,” ungkap Alim.


Selain untuk melestarikan tradisi khas masyarakat Dieng. Even DCF ini juga digelar untuk meningkatkan potensi wisata Dataran Tinggi Dieng, yang juga sering disebut ”Negeri diatas Awan”

 
 Nafis bersama Ibu dan juga Mbah Naryono, salah satu sesepuh Dataran Tinggi Dieng.


Cerita Lain tentang jalan-jalan di Dieng bersama #FamTripJateng bisa dibaca di sini:





 

9 komentar:

  1. sebenarnya aku masih penasaran dengan fenomena rambut gimbal ini tapi dari sudut pandang ilmiah. pasti lah ada penjelasannya kan? genetis kah? faktor iklim kah? dll

    BalasHapus
    Balasan
    1. dari beberapa ngobrolku dengan teman-teman, terus aku simpulkan itu karena faktor perilaku masyarakat dan kondisi alam (iklim bisa jadi)... aku sempat nulis mistis lho kemarin hahaha...tapi trus aku cari teman ngobrol...ya itu dia jawab: kearifan lokal...

      Hapus
  2. Mejik sekali yaaa.. Pas di sana itu, auranya untungnya bagus gitu. Aura mistis tapi positif. Jadi diriku aman-aman saja

    (Maklum aku ini muridnya eyang subur, jadi ya agak2 kerasa kalau ada yg gak beres hahaha)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...gitu ya..aku enggak ngerasa ya...mungkin aku kurang peka...di tunggu ya postingannya yang mistis-mistis...

      Hapus
  3. Aku juga masih penasaran banget soal ini, katanya Pak Sudarmono pernah penelitian. Sayange Pak Darmono udah meninggal. File penelitiane masih ada gak ya?

    BalasHapus
  4. Jare orisa suruh tanya suamine sekar mbak.. :)) pgn ke daerah gunung merbabu yg ada anak gimbalnya juga mbak..

    BalasHapus
  5. Nafis, tumbuhlah menjadi anak yang hebat... amin.

    BalasHapus